Oleh Ahmad Kosasih
Seekor anak gajah liar berhasil ditangkap oleh serombongan pemburu di sebuah hutan. Para pemburu lalu menjualnya kepada seorang pemilik sirkus. Di penangkaran sirkus, anak gajah itu diikat dengan seutas tali pada patok kayu sebesar tangan orang dewasa yang ditancapkan ke tanah. Di sana, ternyata banyak anak gajah lain yang senasib dengannya.
Anak gajah itu berontak ingin melepaskan diri. Sesekali ia menyeruduk patok kayu itu. Kadang ia juga menarik tali sekuatnya. Namun, usahanya sia-sia. Tali itu tidak putus dan patok kayu masih kokoh menancap. Ia pun kelelahan.
Esoknya ia berontak lagi, namun tetap hasilnya nihil seperti kemarin. Setelah sepekan usahanya untuk meloloskan diri tak kunjung berhasil, ia mulai frustasi.
”Percuma aku berusaha, hanya menghabiskan energiku saja. Talinya sangat kuat dan batang bambunya sangat kokoh,” gerutu sang gajah.
Beberapa meter di sebelahnya, ada seekor gajah yang usianya lebih tua memerhatikan perilaku teman barunya itu. ”Sudahlah, percuma saja. Kami juga sudah mencobanya beberapa tahun lalu. Dan tidak pernah berhasil,” keluhnya.
Ucapan gajah senior itu tentu saja makin menciutkan nyalinya untuk membebaskan diri. Sejak hari itu, ia tidak lagi berusaha untuk menyeruduk patok kayu atau menarik-narik tali pengikatnya untuk meloloskan diri. Ia berubah menjadi anak gajah yang manis, yang selalu menuruti perintah tuannya, terutama saat bermain sirkus.
Beberapa tahun berlalu, anak gajah itu tumbuh dan berkembang menjadi dewasa. Ia menjadi gajah kesayangan tuannya karena paling patuh dan ahli melakukan gerakan-gerakan sirkus. Tidak terlintas lagi di benaknya keinginan untuk kabur. Tak ada hasrat lagi dalam pikirannya untuk menjadi gajah yang merdeka, yang bisa berbuat sesuka hatinya di dalam hutan, sebagaimana diinginkannya sewaktu ia ditangkap. Padahal, tenaganya sudah sangat kuat. Jangankan merobohkan patok kayu, sebatang besi pun mampu ia robohkan saat ini. Dan, hingga saat ini, tali yang digunakan tuannya untuk mengikutnya masih tali yang dulu. Bahkan, patoknya pun masih patok kayu yang dulu, yang sudah rapuh dan keropos. (AK/pernah dimuat di Majalah Zamzam edisi Agustus 2008)
Wah, kang artikelnya bagus juga. saya juga pernah mengalami hal seperti itu. kadang-kadang tidak memiliki semangat ketika rencana atau cita-cita gagal diraih. sehingga saya sering frustasi. padahal, kita harus serius dan sungguh untuk menacapai tujuan kita. jazakumullah….
Hmmm… aku kok menangkapnya ini ajakan untuk wirausaha ya …. (dari karyawan ke entrepreneur).
Bagus kang, aku sekarang jadi merasa seperti gajah yang manis itu…
BTW jadi ada yang mengusik ku.
Salam
Hehehe… jadi ingat anak. Untung aku ga jadi ortu yang kayak patok-patok kokoh itu. (muji diri ndiri) Jadi anakku tidak merasa terbelenggu. Aku cukup tut wuri handayani, tapi juga ing ngarso sung tulodo, trus juga ing madya mbangun karsa….
Soale dulu waktu aku kecil ayahku ya kesannya kayak patok-patok itu…, untungnya ada ibuku yang kadang-kadang mbantu aku meloloskan diri dari patok-patok…
walah…ini kok ngomongnya muter ya….
Keren … kadang kita merasa keinginan kita adalah sesuatu yang benar dan harus kita capai. Padahal, tidak selamanya keinginan itu sesuatu yang terbaik untuk kita. Namun ternyata, di setiap kejadian pasti ada hikmahnya jika menjalaninya dengan ikhlas. jazakallah ya …
wah bagus tuh. emang sebaiknya kita tidak seperti anak gajah itu, apalagi menjadi tuan sirkus, yang membelenggu yang punya potensi.
andai anak gajah itu tuli atau menulikan telinganya dari komentar dan pesimisme gajah lain, bisa jadi dia punya peluang. Kadang jadi gajah tuli itu perlu kali yeee