Oleh Ahmad Kosasih
“Dan seseorang yang selalu merendahkan diri karena Allah, pasti Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR Muslim)
Kemerdekaan merupakan hak utama bagi setiap manusia. Sama halnya dengan sebuah bangsa yang dijajah, setiap manusia yang terbelenggu akan berusaha membebaskan dirinya, meski kemerdekaan yang hendak dicapainya membutuhkan pengorbanan yang sangat besar.
Alangkah pilu dan pedih bangsa yang terjajah dan terampas kemerdekaannya. Diatur dan diperintah semata-mata untuk mengikuti selera yang menjajah.Tiada ketentraman, cita-cita, kebahagiaan, dan tidak ada masa depan yang cerah.
Sahabat, Rasulullah saw merupakan seorang nabi dan rasul yang telah berhasil membebaskan umat manusia dari penjajahan. Beliau membebaskan umat manusia dari segala belenggu dengan cara menyeru dan mengajaknya masuk ke dalam Islam secara kaffah.
Dua kalimat syahadat ialah gerbang yang harus dimasuki oleh seseorang yang akan merdeka. Seorang yang berikrar Syahadat, dengan mengakui Allah sebagai Tuhan dan Muhammad saw sebagai utusan-Nya, berarti ia telah merdeka. Syahadat merupakan proklamasi kemerdekaan manusia yang sesungguhnya.
Setelah seseorang berikrar Syahadat, ia harus siap dengan konsekuensiya. Saat ini, masih banyak kaum Muslim yang kurang berkomitmen dengan janjinya pascaikrar Syahadat. Mayoritas umat Islam memahami Syahadat sebagai ikrar semata, padahal lebih dari itu. Apabila mereka mengetahui bahwa Syahadat juga mengandung arti sumpah dan janji, serta mengetahui bahwa akibat sumpah dan janji itu akan mendatangkan kebaikan kepadanya maka mereka akan sungguh-sungguh mengamalkan ajaran Islam dan beriman secara benar.
Iman sebagai dasar dan hasil dari Syahadat yang benar merupakan pernyataan yang keluar dari lisan, diyakini oleh hati, dan dibutikan melalui perbuatan. Bila kita mengamalkan Syahadat dan mendasarinya dengan iman yang istiqamah maka kita akan memiliki keberanian, merasakan ketenangan, dan optimistis menjalani kehidupan.
Rasulullah dan para sahabat begitu berat dalam memperjuangkan Syahadat. Mereka siap dan tidak takut terhadap segala ancaman orang kafir Quraisy. Banyak dari sahabat Rasulullah mati syahid demi komitmen terhadap Syahadat yang telah diikrarkannya. Amar bin Yasir misalnya, ia mati syahid karena disiksa oleh para pembesar kafir Quraisy. Atau Bilal bin Rabah, harus rela disiksa dengan cara ditindih dengan batu besar di tengah padang pasir yang sangat panas, sebelum akhirnya dimerdekakan oleh Abu Bakar Ash-Shidiq.
Para sahabat, shalafush shalih, dan kaum Mukminin saat ini telah memahami dengan benar makna kalimat ”la ilaha illallah”. Karena pemahaman itu, mereka rela berjuang dan berkorban demi tegaknya kalimat ”la ilaha illallah” di muka bumi ini. Kalimat ”la ilaha illallah” tidak mungkin difahami kecuali dengan memahami terlebih dahulu makna ilah. Ilah berasal dari kata aliha yang bermakna abaduhu (mengabdi/menyembahnya), yaitu sesuatu yang disembah dan dituruti. Seiring perkembangan zaman, banyak manusia yang ber-ilah-kan harta, kedudukan, lawan jenis, atau hawa nafsu. Mereka tidak lagi tunduk kepada Allah, tetapi kepada selain-Nya itu.
Konsekuensi dari dua kalimt Syahadat sebenarnya akan mendorong sebuah kemerdekaan yang hakiki. Seseorang yang memiliki komitmen terhadap ikrar kemerdekaan dirinya, akan memperlakukan orang lain dengan adil. Ia tidak lagi membeda-bedakan orang lain karena adanya perbedaan, suku, bangsa, warna kulit, atau pendidikan. Ia meyakini bahwa yang membedakan kedudukan seseorang di hadapan Allah adalah ketakwaannya (QS Al-Hujurat [49]: 13).
Oleh karena itu, kita harus menerima konsekuensi dari kalimat Syahadat, yaitu dengan mengamalkan semua yang diperintahkan Allah dan rasul-Nya, dan meninggalkan semua yang dilarang-Nya. Lalu ikhlas dalam beribadah dan beramal, serta ridha dan sabar ketika sedang diuji-Nya. Pada akhirnya, Allah Swt akan menepati janjinya di akhirat kelak, yaitu memasukkan kita ke dalam jannah-Nya.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhannya ialah syurga ’Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS al-Bayyinah [98]: 7-8). (AK/pernah dimuat dalam Majalah Zamzam edisi Agutus 2008)