Oleh Ahmad Kosasih
Setiap manusia memiliki sifat alamiah ingin dihargai atau dihormati. Keinginan mendapat penghormatan atau penghargaan didorong oleh perasaaan untuk mendapat pengakuan. Merasa diakui, keberadaannya diperhitungkan, merupakan sesuatu yang harus diperhatikan dalam menjalin hubungan antar pribadi di rumah, tempat kerja, atau organisasi.
Kurangnya pengakuan dalam hubungan antar pribadi, dapat menyebabkan tidak harmonisnya sebuah hubungan; tidak jarang hubungan itu berakhir dengan konflik. Bahkan, tidak sedikit konflik makin meruncing, saling menjatuhkan, dan berakhir dengan permusuhan. Asalnya kawan akrab berubah menjadi musuh. Awalnya sepasang suami istri yang haromis, berubah menjadi mantan suami-istri yang saling bermusuhan. Nau’dzubillah.
Karena itu, kita harus berhati-hati dalam menjalin hubungan. Kehati-hatian harus kita wujudkan dengan cara menghormati, menghargai, dan mengakui orang lain. Suami-istri, anak, tetangga, teman kerja, atasan-bawahan, harus saling memerlakukan secara adil dan istimewa. Kita harus memerlakukan mereka secara proporsional dan profesional. Maksudnya, anak-anak harus diperlakukan sebagai anak, istri harus diperlakukan sebagai istri, pimpinan harus diperlakukan sebagai atasan, dan bawahan harus diperlakukan sebagai mitra kerja. Meski ada sedikit perbedaan dalam menjaga hubungan dengan orang-orang di sekitar kita, tetap semuanya harus dihormati, dihargai dan diakui secara adil.
Rasa Hormat
Rasa hormat kepada orang lain tumbuh dari pribadi yang memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap dirinya sendiri. Ia memberikan rasa hormat itu bukan karena ia ingin mendapatkan pujian. Akan tetapi, ia memberikan rasa hormat itu karena memiliki naluri ingin mendapatkan perlakuan dan penghormatan dari orang lain.
Hidup kita tanpa kehadiran orang lain akan menjadi sunyi. KH Toto Tasmara dalam Spiritual Centered Leadership menuliskan bahwa hidup tanpa orang-orang yang siap bekerjasama bagaikan seorang pengembala yang siap kehilangan gembalaannya. Pemimpin tanpa rasa hormat dan dihormati adalah pemimpin yang hanya menunda waktu untuk menjemput kekalahan.
Mengutip pernyataan Jhon C. Maxwell dalam The 21 Irreputable Laws of Leadership (21 hukum kepemimpinan sejati), Toto Tasamara menyebutkan, “Ketika orang menghormati pribadi seseorang, ia sedang mengaguminya. Ketika orang menghormati seseorang sebagai teman, ia akan mengasihinya. Ketika orang menghormati seseorang sebagai pemimpin, ia akan mengikutinya.”
Rasulullah saw bersabda, ”Tidaklah termasuk pengikutku, mereka yang tidak hormat kepada yang tua (senior) dan mengasihi yang kecil (junior)….” Sabda Rasulullah saw ini harus masuk dalam dawai hati para pemimpin sehingga setiap memerhatikan dan atau berbicara dengan orang lain tampaklah dawai-dawai suara hatinya bergetar penuh perhatian, kepedulian, dan rasa hormat yang mendalam—kita mengenalnya sebagai sopan santun. Sopan santun pada diri seorang pemimpin akan melahirkan respek yang secara otomatis timbul, tanpa perlu dikomando atau diperintah.
Respek yaitu memerhatikan orang yang di belakang, memberi kepedulian kepada bawahan, atau menyatakan rasa hormat kepada orang lain. Respek menurut Toto Tasmara, mengandung muatan rasa peduli, hormat, dan perhatian kepada orang-orang di sekitarnya. Mereka tidak berjalan ke depan seperti kacamata kuda yang tak acuh, tetapi memalingkan mukanya untuk meraih kepedulian dan rasa hormat dan sikap santun.
Dalam kepemimpinan, lanjut Toto Tasmara, respek merupakan bagian dari rasa empati, yaitu merasakan suasana hati orang lain dan merasakan rintihan dan kegetirannya sehingga mereka yang memiliki jiwa kepemimpinan tidak akan berjalan dengan iqnorancy (ketidakpedulian), tetapi melihat ke bawah dan melihat orang-orang di sekitarnya dengan perasaaan yang bergetar.
Jika kita berkeinginan memberdayakan potensi kepemimpinan diri maka kita harus peka terhadap keadaan sekeliling. Kita mesti menaruh rasa hormat terhadap orang-orang di sekitar kita, tanpa memandang jenis kelamin, ras, atau agamanya. Rasa hormat merupakan perasaan manusiawi yang asasi dan universal.
Menghormati orang lain bukanlah sebuah kewajiban, tetapi harus menjadi sebuah kebutuhan. Dengan menghormati orang lain, kita akan dihormati. Begitu pula bila kita mengerti orang lain maka orang lain pun akan memahami kita. Prinsip ini harus menjadi dasar pemahaman para pemimpin.
Respek bukanlah monopoli para pemimpin. Rasa hormat bukanlah suatu sikap yang harus wujudkan oleh mereka yang sedang berada di atas saja. Sifat ini harus dimiliki oleh setiap orang. Rasa hormat merupakan pancaran spiritual pribadi kita. Oleh karena itu, menjaga kondisi spiritual (ruhiyah) tetap tinggi merupakan salah satu cara agar sifat ini tetap ada dan dapat kita aplikasikan.
***) pernah saya muat di majalah Swadaya DPU-DT pada rubrik Kepemimpinan sekitar tahun 1996 dengan nama pena ”Abu Ahmad”.