oleh Abu Ahmad
“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berfikir.” (QS Yunus [10]: 24)
Tatkala kita berjalan menyusuri beragam kota dan negeri, adakalanya kita merasa takjub atas peradaban materi yang telah dibangun oleh manusia. Bangunan tempat manusia tinggal dan beraktivitas, dibangun dengan megah dan indahnya. Menara-menara perkantoran menjulang. Jalan-jalan layang menghubungkan tempat dengan tempat lainnya bagai garis-garis, membentuk sketsa yang indah. Berbagai sarana kehidupan yang diciptakan manusia sedemikian lengkapnya untuk mempermudah aktivitas. Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat, menyediakan berbagai kemudahan bagi kehidupan manusia.
Itulah kehidupan kita di dunia ini. Peradaban yang acapkali menakjubkan sekaligus melupakan hakikat dari kehidupan itu sendiri. Sarana kehidupan yang megah, indah dan memudahkan, melenakan kita dari tujuan hidup itu sendiri. Tidak sedikit orang yang menjadikan sarana kehidupan menjadi tujuan hidupnya. Kemewahan hidup menjadi idaman. Keserbamudahan dan kenikmatan dunia menjadi cita-cita yang diperjuangkan. Semua itu, meluputkan kita dari hakikat hidup itu sendiri.
Karena itulah, dalam berbagai ayat, Allah SWT mengingatkan orang-orang beriman agar tetap sadar akan hakikat kehidupan, tujuan hidupnya serta jalan kehidupan yang harus dilaluinya. Salah satunya, adalah ayat di atas. Pada ayat di atas, Allah SWT mengumpamakan kehidupan di dunia yang menawan dan menakjubkan ini hamparan tumbuh-tumbuhan yang kemudian daripadanya manusia mengambil manfaat, dan terus tumbuh memperindah hamparan dunia ini. Lalu, dalam sekejap semua itu bisa hancur tak tersisa. Begitulah sesungguhnya kehidupan di dunia ini, begitupulalah hidup manusia di dunia ini.
Kefanaan, kesementaraan, dan singkatnya hidup di dunia menjadi ciri kehidupan saat ini. Betapapun menawannya ia akan pudar. Betapapun indahnya ia akan rusak. Semegah dan sehebat apapun ia pasti binasa. Itulah hakikat kehidupan di dunia dan sunnatullah yang berlaku bagi seluruh ummat manusia. Kemewahan budaya bangsa Babylonia, tinggal puing-puing. Kekuasaan Fir’aun tinggal jejak-jejak dalam bentuk kuburan (Pyramid dan Sphink). Demikian pula halnya dengan kemegahan Romawi, kepongahan Persia dan peradaban bangsa-bangsa lainnya.
Sunnatullah itu berlaku, tidak hanya berkenaan dengan nasib sebuah bangsa, namun berlaku pula dalam kehidupan manusia, setiap orang. Tumbuh dan berkembang, menakjubkan. Dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan renta. Siklus yang dilalui begitu pendek, bila lengah dan terlena oleh kehidupan ini, tanpa disadari manusia berada di penghujung kehidupan. Sebagian ada yang lengah oleh kesibukannya mengumpulkan harta kekayaan. Sebagian lain tersita waktunya oleh karir pekerjaannya. Sebagian ada pula yang terlena oleh upaya meraih puncak kekuasaan. Mereka tersadar tatkala hidup menjelang ajal, atau bahkan tiada sadar sampai ajal tiba. Na’udzubillahi min dzalik.
Lalu, apakah yang akan dihadapi dikala ia berada di penghujung kehidupan?
Adakah segala kemewahan akan ikut bersama jasadnya ke liang lahat yang sempit? Apakah seluruh harta kekayaan yang dikumpulkannya akan ia nikmati setelah jasadnya terbaring di keranda jenazah? Apakah anak-anak, isteri, atau orang-orang yang setia dan mencintainya akan ikut bersamanya? Tidak. Setiap orang akan berbaring seorang diri. Ataukah pangkat dan kekuasaan yang diraihnya mampu menolak ajal atau sekedar menundanya? Tidak, walau hanya sekejap saja. Semua itu ditinggalkan, yang dibawa hanyalah amal perbuatannya yang harus dipertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT. Dan itulah, amal perbuatan dalam kehidupan di dunia yang singkat ini, akan menentukan nasibnya dalam kehidupan abadi di akhirat kelak.
Maka, betapa ruginya bila kehidupan di dunia yang sesaat ini mengelabui hakikat kehidupan itu sendiri. Seluruh kemegahan, kemewahan, kemudahan dan segala hal yang ada di dunia ini, baik yang telah punah dan musnah, maupun peradaban materi lainnya yang sudah tegak dan sedang dibangun, seharusnya membawa kita kepada kesadaran akan kekuasaan Allah SWT. Bahwa semua itu, akan sia-sia manakala tidak dijadikan sarana ibadah untuk mendekatkan manusia kepada Allah SWT.
Semua ayat itu, harus mengubah pandangan kita dalam memandang kehidupan ini. Semua kekayaan yang peroleh harus menjadi sarana ibadah kepada Allah, karena itulah nilai yang abadi sedangkan kekayaan bisa musnah dalam sesaat. Puncak karir dan kekuasaan yang diraih harus menjadi sarana untuk berjihad di jalan Allah, karena itulah nilai yang akan kita bawa sepanjang hayat di dunia dan akhirat, sedangkan kekuasaan itu sendiri akan kita tinggalkan. Jadikanlah anak isteri, kerabat dan sahabat yang mencintai kita sebagai ladang amal dan upaya menjalin silaturahmi di jalan Allah, karena itulah yang akan menjadi bekal kebaikan kita di kehidupan yang abadi. Sedangkan di dunia, mereka, cepat atau lambat, pasti akan kita tinggalkan atau meninggalkan kita.
Gunakanlah akal pikiran dan nurani kita untuk memandang kehidupan ini. Karena sesungguhnya Allah SWT telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada orang-orang yang berpikir…